Kita di ciptakan oleh TUHAN ELOHIM bukan untuk hidup seharian saja, tetapi kita di ciptakan untuk hidup kekal
___________Hamah Sagrim__________
Kehidupan kita saat ini bukan hanya yang ada sekarang. Kehidupan di bumi hanyalah gladi bersih yang kita jalani sebelum pelaksanaan yang sesungguhnya. Kita akan menghabiskan jauh lebih banyak waktu di sisi lain dari sesudah kematian, yaitu kekekalan, daripada waktu di bumi. Bumi adalah daerah persiapan, pra sekolah, uji coba bagi kehidupan kita di kekekalan. Inilah masa latihan sebelum permainan yang sesungguhnya; ini merupakan putaran pemanasan sebelum pertandingan dimulai. Dengan demikian bahwa kehidupan kita saat ini adalah persiapan untuk kehidupan berikutnya.
Anda mungkin berpikir, Saya bisa hidup seratus tahun di bumi, saya juga mungkin bisa berkeinginan seperti itu, saudara kita yang lain pun juga pasti demikian, itu bisa saja terjadi, akan tetapi kita akan hidup selamanya di kekekalan dalam kehidupan berikutnya tanpa harus kita berpikir untuk hal itu. Waktu kita di bumi seperti yang dikatakan oleh Sir Thomas Browne, “hanyalah tanda kurung kecil waktu dalam kekekalan di bumi.” Kita diciptakan untuk hidup selama-lamanya.
Ini karena Tuhan merancang kita untuk hidup kekal. Maka Tuhan memberikan kekekalan di dalam hati kita, kita memiliki suatu naluri untuk merindukan kekekalan. Sekalipun kita tahu bahwa semua orang akhirnya meninggal. Mungkin kita merasa kematian sepetinya selalu tidak wajar dan tidak adil. Suatu alasan mengapa manusia merasa bahwa harus mereka hidup selamanya adalah karena Tuhan melengkapi otak mereka dengan keinginan tersebut.
Suatu hari jantung saya akan berhenti berdetak. Ini merupakan akhir tubuh saya dan waktu saya di bumi, setiap orang pasti demikian, termasuk anda. Tubuh duniawi kita hanyalah kediaman sementara bagi roh kita. Tubuh duniawi kita ini merupakan sebuah kemah, tetapi menunjuk pada tubuh masa depan kita sebagai sebuah rumah. Jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Tuhan telah menyediakan sebuah tempat kediaman di sorga bagi kita, tempat itu kekal, ia tak lekang karena tidak dibuat oleh tangan manusia.
Mungkin kehidupan kita di dunia menawarkan banyak pilihan, sehingga kita berpikir untuk hidup lebih dari seratus tahun, seperti kata penyair klasik Indonesia, Chairil Anwar; “aku ingin hidup seratus tahun lagi.” Sebaliknya kekekalan menawarkan hanya dua pilihan kepada kita: sorga atau neraka. Hubungan kita di bumi dengan Tuhan akan menentukan hubungan kita dengan-Nya di dalam sorga sebagai kekekalan kita. Jika kita percaya Tuhan, kita akan di undang untuk menghabiskan kekekalan kita bersama Dia. Sebaliknya, jika kita menolaknya, maka kita akan menghabiskan kekekalan kita terpisah dengan Tuhan. Surga dan neraka itu sama-sama kekal, hanya beda situasi.
Apabila anda sepenuhnya memahami bahwa kehidupan ini bukan sekedar ada sekarang, dan anda memahami bahwa kehidupan ini hanyalah persiapan untuk memasuki kekekalan, maka sudah pasti anda akan mulai hidup dengan berbeda. Anda akan mulai hidup dalam terang kekekalan, dan itu akan mewarnai cara anda menangani semua hubungan, tugas, dan keadaan anda. Jikalau anda telah berada pada kehidupan tersebut, Suatu saat anda akan melihat bahwa masalah, kegiatan-kegiatan besar, bahkan sasaran-sasaran duniawi yang tampak penting bagi orang lain akan kelihatan tidak penting, terlihat kecil, dan tidak layak mendapatkan perhatian anda. Semakin dekat kita hidup dengan Tuhan, semakin kecil kelihatannya segala sesuatu yang lain. Ketika kita hidup dengan mempertimbangkan kekekalan, nilai-nilai kita akan berubah. Inilah yang mempengaruhi kita, kematian bukanlah akhir kita! Kematian merupakan perpindahan kita dari kesementaraan menuju kekekalan. Hal ini membutuhkan timbal balik pada segala sesuatu yang kita lakukan di dunia sebagai syarat yang memberi pengaruh untuk kehidupan kita yang kekal. Sebenarnya aspek yang merusak dari kehidupan zaman sekarang adalah cara berpikir untuk jangka pendek. Untuk memanfaatkan kehidupan anda sebaik mungkin, anda harus memelihara visi kekekalan terus menerus di dalam benak anda dan nilai kekekalan itu di dalam hati anda. Kehidupan sama sekali bukan hanya yang dijalani sekarang! Sekarang ini adalah puncak yang kelihatan dari sebuah karst gunung yang menjulang. Kekekalan adalah suatu gunung yang tidak anda lihat. Terus terang, kemampuan otak kita tidak bisa menjawab dan menghadapi keajaiban dan kehebatan sorga yang kekal itu.
Allah memiliki suatu tujuan bagi kehidupan anda dan saya di bumi, yang mana kehidupan kita tidak berakhir di bumi ini. Allah mempunyai rencana yang mulia terhadap kehidupan anda dan saya yang cakupannya jauh lebih banyak daripada beberapa dekade yang kita habiskan di plenet ini. Kehidupan kita di planet ini bukan sekedar kesempatan hidup, melainkan Allah memberi anda dan saya suatu kesempatan yang melebihi umur hidup kita di bumi. Allah merencanakan kekekalan yang tetap dan selama-lamanya bagi kita.
Seringkali orang berkata bahwa tidak wajar kalau orang memikirkan kematian karena itu bukan urusan mereka. Ini memang benar, akan tetapi sebenarnya tidak sehat kalau orang hidup dengan menolak kematian. Hanya orang bodoh yang akan menjalani kehidupannya tanpa bersiap-siap menghadapi apa yang kita semua tahu akan terjadi akhirnya dari hidup kita. Anda perlu berpikir lebih banyak tentang kekekalan, jangan lebih sedikit.
Kehidupan kita di planet ini sama seperti perjalanan hidup sembilan bulan yang kita habiskan didalam rahim ibu. Rahim ibu merupakan tempat awal yang membentuk serta memproses kita, yang mana kelahiran kita bukanlah suatu akhir, tetapi merupakan persiapan untuk menghadapi kehidupan yang lebih lama berikutnya yaitu di bumi. Hanya dengan melalu kelahiran kita dari rahim ibu maka kehidupan baru di bumi akan dimulai, ini sama halnya dengan kematian, bahwa hanya dengan kematian kita, maka kehidupan berikutnya akan dimulai. Jika anda memiliki suatu hubungan dengan Allah, anda tidak perlu takut akan kematian. Itulah pintu menuju kekekalan. Kematian akan menjadi jam terakhir dari waktu kita di bumi, tetapi bukan akhir dari diri anda dan saya. kematian justru merupakan hari kelahiran kita kedalam dunia baru yaitu dunia kekekalan. Demikian bahwa rahim ibu dan dunia ini bukanlah tempat tinggal kita yang kekal, tetapi setiap kita selalu menantikan tempat tinggal yang kekal di surga.
Ini bila dibandingkan dengan waktu hidup yang kita habiskan di rahim ibu dan dunia tidak sebanding. Waktu kita di planet pasti hanya sembilan bulan paling lama, dan waktu berikutnya di dunia tidak diketahui dengan pasti, mungkin ada juga yang sekejap ketika lahir lalu meninggal, akan tetapi akibat dari kematian itu menghasilkan sesuatu yang kekal. Perbuatan-perbuatan dalam kehidupan ini menentukan nasib kita dalam kehidupan berikutnya. Anda harus sadar bahwa “selama anda masih hidup dengan keduniawian, selama itu juga anda akan tetap jauh dari Tuhan, dan jika hal ini terus anda jalani selama hidup hingga akhir kematian anda, maaf harapan untuk mencapai kekekalan itu tidak anda peroleh nanti dan pintu surga tertutup bagi anda” . sesungguhnya, akan lebih bijak untuk kita hidup setiap hari itu seolah-olah seperti hari terakhir kehidupan kita. Matthew Henry berkata, “seharusnya setiap hari kita bersiap-siap untuk menghadapi hari terakhir kita”. Katakanlah pada diri anda sekarang juga bahwa “saya harus menjalani hidup sekarang ini dengan sebaiknya dengan Tuhan sebagai gladibersih untuk memasuki kehidupan sesungguhnya yang kekal ”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar