Kamis, 09 Februari 2017

Orang-orang yang di diskriminasikan dalam masyarakat adalah harta karun nasional kita. Mereka memiliki pemulihan dalam sayap-sayap mereka. Kita hrus merangkul mereka dengan memberikan dorongan kepada mereka agar mereka menjadi divisi kita yang dapat melanjutkan pemulihan bagi orang-orang yang terdiskriminasikan lainnya.




Orang-orang yang di diskriminasikan dalam masyarakat adalah harta karun nasional kita. Mereka memiliki pemulihan dalam sayap-sayap mereka. Kita hrus merangkul mereka dengan memberikan dorongan kepada mereka agar mereka menjadi divisi kita yang dapat melanjutkan pemulihan bagi orang-orang yang terdiskriminasikan lainnya.  


_____________Hamah Sagrim__________



Inilah suatu persoalan yang banyak terlupakan oleh setiap orang bahkan setiap sosok pemimpin nasional.  Sebenarnya yang dimaksud dengan Negara yang tenteram adalah sebuah negara yang tidak adanya diskriminasi dan peran egois, tetapi sebaliknya.
            Ada sebuah ide jungkir balik yang dijalankan selalu oleh setiap sosok pemimpin dengan bebas berdasarkan egonya, yaitu mereka kelihatannya kuat dengan membuat orang lain lemah, mungkin anda juga bisa membuat diri anda kelihatan besar dengan membuat orang lain kelihatan kecil. Sayangnya banyak dari kita yang berhasrat untuk kelihatan sekuat atau sebesar mungkin melebihi orang lain. Sebenarnya kita telah terserap pada godaan untuk merendahkan orang lain dengan berpikir bahwa hal itu akan meninggikan kita. Kadang-kadang para suami dan para istri, atau para pemimpin atau konglomerat tenggelam dalam jebakan ini. Tidak sadar bahwa kita sedang melukai orang yang paling mengasihi kita dengan cara tidak mengasihi yang telah kita perlihatkan. Karena dengan pendiskriminasian dengan pola mementingkan diri kita, kita cenderung lebih mengasihi diri kita daripada orang lain yang lemah, padahal kita telah mengenal mereka secara dekat dengan segala keadaan dan keberadaannya yang serba kekurangan, yang mana seharusnya kita rangkul mereka supaya mereka tidak merasa terdiskriminasikan. Kunci untuk menghindari perpecahan dan perselisihan adalah merangkul setiap orang sebagai sahabat anda  tanpa memandang latar belakang atau wajahnya.
       Saya percaya bahwa jikalau kita merangkul orang-orang yang lemah dan yang terdiskriminasikan ini, berarti kita telah membuat suatu penghormatan besar bagi diri kita.
Saya telah melihat cara perlakuan ego seperti ini ditempat-tempat birokrasi kerja, bagaimana dengan anda? Pernahkah anda Teteskan sedikit isyarat yang mendepresiasi seorang rekan kerja anda?. Anda bisa buat rekanan kerja anda yang lain kelihatannya buruk kapan saja anda bisa. Jika ini benar-benar akan terjadi  pada birokrasi anda, berarti bahwa politik dengan begitu buruknya dipenuhi dengan hal-hal seperti ini. Ini bukan wujud kemakmuran yang sebenarnya. Saya menulis ini sebagai suatu ungkapan ketika mengikuti sebuah kampanye nasional, yang mana sungguh-sungguh dipenuhi dengan kemuakan yang ditunjukkan oleh setiap para kandidat saat mereka saling mengejar perhatian dengan membuat pendiskriminasian antara satu dengan lainnya, yaitu kandidat maupun pengikut pun masing-masing saling sirik. Telah menjadi suatu olahraga nasional untuk mengolok-olok para pemimpin nasional kita untuk tujuan-tujuan politik. Ini bagi saya merupakan ciuman kematian bagi bangsa manapun, dan kita tidak dapat menanggungnya.
Mungkin anda adalah salah seorang korban dari beberapa taktik ini. Anda tahu bahwa betapa hal ini merendahkan martabat diri Anda. Ini khususnya merendahkan martabat ketika anda sedang berusaha membangun kepercayaan bagi orang lain hanya utnuk selanjutnya menemukan bahwa mereka menghianati kepercayaan anda. Saya telah mengalami hal pendiskriminasian ini dalam hidup saya, ketika saya kuliah. Karena kuliah saya yang begitu lama, maka saya dideskritkan sebagai seorang yang tidak berhasil, tidak mempunyai masa depan. Sebagian dari keluarga saya selalu berkata kepada saya, anda tidak berguna, anda itu manusia yang sudah hancur. Mereka tidak merangkul saya secara dekat untuk melihat dan bertanya, kendala apa yang menghambat anda hingga kuliahmu lambat. Padahal faktor utamanya hanyalah disebabkan oleh biaya, sehingga saya selalu melakukan cuti kuliah untuk bekerja mengumpulkan uang agar melunasi biaya semester saya. Saya yakin bahwa anda juga pernah mengalami hal yang serupa, walaupun berbeda persoalan. Saya mengajak anda untuk jangan melakukan hal ini kepada orang lain, karena hal ini cukup melukai perasaan mereka. Saya hanya berharap agar saya jangan melakukannya kepada orang lain.
Sebagian masyarakat cenderung untuk menolak yang lemah, janda-janda, para manula, orang-orang cacat, orang-orang yang tidak mampu, orang-orang dari ras minoritas. Masyarakat memegang mitos yang membuat penilaian berdasarkan produktivitas ekonomi. Semakin kurang seseorang memberi sumbangan ekonomi, semakin kurang nilainya dan orang itu semakin terbuang. Produktivitas dianggap sebagai kekuatan, dan dengan demikian keterlukaan dianggap sebagai kelemahan.
Mungkin itulah sebabnya mengapa “orang-orang lemah” selalu bersembunyi, bahkan tidak banyak berbicara seperti orang besar. Mereka merasa bahwa mereka tidak dibutuhkan atau diinginkan karena dengan keberadaan mereka. Mereka merasa memiliki nilai yang lebih rendah daripada ketika mereka belum terluka. Saya berharap agar kita bisa membantu mereka. Bantulah mereka keluar dari persembunyian untuk menjadi pemulih kepada orang lain yang lemah dan hancur. Mereka memiliki sesuatu yang orang-orang kuat tidak merasakan. Orang-orang kuat tidak melihat apa yang orang lemah melihat, orang-orang kuat melihat diri mereka sendiri sebagaimana orang-orang yang terluka tidak melihatnya. Kataknlah pada diri anda sekarang juga bahwa “saya sebagai sosok pemimpin yang harus merangkul kaum yang lemah dan terdiskriminasikan untuk memulihkan mereka dari luka-luka mereka melalui sayap-sayap pemulihan agar mereka juga menjadi pemulih yang menjangkau kaum yang terluka lainnya”.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar