Orang-orang yang di
diskriminasikan dalam masyarakat adalah harta karun nasional kita. Mereka
memiliki pemulihan dalam sayap-sayap mereka. Kita hrus merangkul mereka dengan
memberikan dorongan kepada mereka agar mereka menjadi divisi kita yang dapat
melanjutkan pemulihan bagi orang-orang yang terdiskriminasikan lainnya.
_____________Hamah Sagrim__________
Inilah suatu persoalan yang banyak terlupakan oleh
setiap orang bahkan setiap sosok pemimpin nasional. Sebenarnya yang dimaksud dengan Negara yang tenteram adalah sebuah negara
yang tidak adanya diskriminasi dan peran egois, tetapi sebaliknya.
Ada
sebuah ide jungkir balik yang dijalankan selalu oleh setiap sosok pemimpin
dengan bebas berdasarkan egonya, yaitu mereka kelihatannya kuat dengan membuat
orang lain lemah, mungkin anda juga bisa membuat diri anda kelihatan besar
dengan membuat orang lain kelihatan kecil. Sayangnya banyak dari kita yang
berhasrat untuk kelihatan sekuat atau sebesar mungkin melebihi orang lain.
Sebenarnya kita telah terserap pada godaan untuk merendahkan orang lain dengan
berpikir bahwa hal itu akan meninggikan kita. Kadang-kadang para suami dan para
istri, atau para pemimpin atau konglomerat tenggelam dalam jebakan ini. Tidak
sadar bahwa kita sedang melukai orang yang paling mengasihi kita dengan cara
tidak mengasihi yang telah kita perlihatkan. Karena dengan pendiskriminasian
dengan pola mementingkan diri kita, kita cenderung lebih mengasihi diri kita
daripada orang lain yang lemah, padahal kita telah mengenal mereka secara dekat
dengan segala keadaan dan keberadaannya yang serba kekurangan, yang mana
seharusnya kita rangkul mereka supaya mereka tidak merasa terdiskriminasikan.
Kunci untuk menghindari perpecahan dan perselisihan adalah merangkul setiap
orang sebagai sahabat anda tanpa
memandang latar belakang atau wajahnya.
Saya
percaya bahwa jikalau kita merangkul orang-orang yang lemah dan yang
terdiskriminasikan ini, berarti kita telah membuat suatu penghormatan besar
bagi diri kita.
Saya telah melihat cara perlakuan ego
seperti ini ditempat-tempat birokrasi kerja, bagaimana dengan anda? Pernahkah
anda Teteskan sedikit isyarat yang mendepresiasi seorang rekan kerja anda?.
Anda bisa buat rekanan kerja anda yang lain kelihatannya buruk kapan saja anda
bisa. Jika ini benar-benar akan terjadi
pada birokrasi anda, berarti bahwa politik dengan begitu buruknya
dipenuhi dengan hal-hal seperti ini. Ini bukan wujud kemakmuran yang
sebenarnya. Saya menulis ini sebagai suatu ungkapan ketika mengikuti sebuah
kampanye nasional, yang mana sungguh-sungguh dipenuhi dengan kemuakan yang
ditunjukkan oleh setiap para kandidat saat mereka saling mengejar perhatian
dengan membuat pendiskriminasian antara satu dengan lainnya, yaitu kandidat
maupun pengikut pun masing-masing saling sirik. Telah menjadi suatu olahraga
nasional untuk mengolok-olok para pemimpin nasional kita untuk tujuan-tujuan
politik. Ini bagi saya merupakan ciuman kematian bagi bangsa manapun, dan kita
tidak dapat menanggungnya.
Mungkin anda adalah salah seorang korban
dari beberapa taktik ini. Anda tahu bahwa betapa hal ini merendahkan martabat
diri Anda. Ini khususnya merendahkan martabat ketika anda sedang berusaha
membangun kepercayaan bagi orang lain hanya utnuk selanjutnya menemukan bahwa
mereka menghianati kepercayaan anda. Saya telah mengalami hal pendiskriminasian
ini dalam hidup saya, ketika saya kuliah. Karena kuliah saya yang begitu lama,
maka saya dideskritkan sebagai seorang yang tidak berhasil, tidak mempunyai
masa depan. Sebagian dari keluarga saya selalu berkata kepada saya, anda tidak
berguna, anda itu manusia yang sudah hancur. Mereka tidak merangkul saya secara
dekat untuk melihat dan bertanya, kendala apa yang menghambat anda hingga
kuliahmu lambat. Padahal faktor utamanya hanyalah disebabkan oleh biaya,
sehingga saya selalu melakukan cuti kuliah untuk bekerja mengumpulkan uang agar
melunasi biaya semester saya. Saya yakin bahwa anda juga pernah mengalami hal
yang serupa, walaupun berbeda persoalan. Saya mengajak anda untuk jangan
melakukan hal ini kepada orang lain, karena hal ini cukup melukai perasaan
mereka. Saya hanya berharap agar saya jangan melakukannya kepada orang lain.
Sebagian masyarakat cenderung untuk
menolak yang lemah, janda-janda, para manula, orang-orang cacat, orang-orang
yang tidak mampu, orang-orang dari ras minoritas. Masyarakat memegang mitos
yang membuat penilaian berdasarkan produktivitas ekonomi. Semakin kurang
seseorang memberi sumbangan ekonomi, semakin kurang nilainya dan orang itu
semakin terbuang. Produktivitas dianggap sebagai kekuatan, dan dengan demikian
keterlukaan dianggap sebagai kelemahan.
Mungkin itulah sebabnya mengapa
“orang-orang lemah” selalu bersembunyi, bahkan tidak banyak berbicara seperti
orang besar. Mereka merasa bahwa mereka tidak dibutuhkan atau diinginkan karena
dengan keberadaan mereka. Mereka merasa memiliki nilai yang lebih rendah daripada
ketika mereka belum terluka. Saya berharap agar kita bisa membantu mereka.
Bantulah mereka keluar dari persembunyian untuk menjadi pemulih kepada orang
lain yang lemah dan hancur. Mereka memiliki sesuatu yang orang-orang kuat tidak
merasakan. Orang-orang kuat tidak melihat apa yang orang lemah melihat,
orang-orang kuat melihat diri mereka sendiri sebagaimana orang-orang yang
terluka tidak melihatnya. Kataknlah pada diri anda sekarang juga bahwa
“saya sebagai sosok pemimpin yang harus merangkul kaum yang lemah dan
terdiskriminasikan untuk memulihkan mereka dari luka-luka mereka melalui
sayap-sayap pemulihan agar mereka juga menjadi pemulih yang menjangkau kaum
yang terluka lainnya”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar